Filed under: Makanan Khas
Bakpia Pathuk
Ingat bakpia, ingat camilan yang berbahan dasar kacang hijau, oleh-oleh dari Jogja. Memang tidak sulit mencari makanan yang satu ini. Karena terkenalnya sebagai makanan khas Jogja, hampir setiap toko oleh-oleh yang tersebar di seluruh Jogja menawarkan bakpia sebagai oleh-oleh. Merek yang terkenal pun menjadi pilihan bagi para wisatawan yang tidak ingin terlalu pusing memilih.
Tapi tahukah Anda kalau pusat bakpia ini sebenarnya tidak jauh dari jalan Maliboro? Bagi yang sudah sering ke Jogja, mungkin lokasi ini sudah menjadi lokasi kunjungan reguler saat berkunjung ke Jogja. Tapi buat yang belum, tidak akan sulit mencari daerah yang berada di sepanjang Jl. K.S Tubun ini. Bertanyalah kepada tukang becak, andong, dokar, dan juga taksi yang Anda temui, maka Anda akan diantar sampai ke tujuan.
Daerah sentra pembuatan bakpia ini bernama Pathuk. Jangan salah dengan daerah Pathuk yang terletak di Gunungkidul, daerah Pathuk ini terletak di tengah-tengah kota Jogja. Jika diantar oleh becak dan transportasi umum yang lain kecuali bis, besar kemungkinannya Anda akan diantar menuju toko yang sudah terkenal di jalan itu, atau mungkin toko yang dimiliki oleh teman atau saudaranya. Sebenarnya ada cara yang lebih menarik dan lebih dari sekedar datang ke suatu toko dan membeli oleh-oleh. Namun tentu saja cara ini hanya cocok bagi Anda yang mau menjadikan pencarian oleh-oleh sebagai petualangan, sekaligus olahraga jalan sehat.
Di sepanjang Jl. K.S tubun ini memang berjajar toko oleh-oleh dengan bakpia sebagai daya tarik utamanya, tetapi bukan itu yang menarik. Pathuk terkenal sebagai sentra pembuatan bakpia, jadi mayoritas warganya membuat bakpia untuk dijajakan. Keterbatasan lahan tanah, dan tentunya biaya membuat warga di sekitarnya tidak bisa berjualan di toko, melainkan di rumah-rumah mereka masing-masing. Anda tidak akan menemui merek bakpia terkenal di sana, tetapi Anda dapat berburu citarasa bakpia yang sesuai selera Anda dan keluarga.
Gang utama paling menonjol yang dapat anda kunjungi berada di sebelah kanan Jl. K.S Tubun dari arah timur. Carilah terlebih dahulu gang yang di depannya terdapat plankat besar bertuliskan ‘Sentra Makanan Khas Bakpia’. Di gang itulah Anda dapat berjalan-jalan dan menemui banyak rumah yang siap dengan pemilik dan bakpia buatan mereka sendiri. Umumnya mereka akan menawarkan kepada Anda untuk mencicipi terlebih dahulu sebelum membelinya. Apabila tidak cocok dengan selera, teruslah berburu dari rumah ke rumah sampai menemukan yang pas dengan lidah. Namun jangan hanya mencicipi semua tempat akhirnya tanpa membeli sama sekali, Anda bisa dituduh hanya mencari makan gratis saja.
Rasa bakpia kini bermacam-macam, sesuai kreasi para pembuatnya. Kalau dulu hanya kacang hijau, sekarang Anda dapat menemukan rasa coklat, nanas, keju, dan lain sebagainya. Yang tidak berubah, bakpia rasanya manis dan bentuknya relatif dari dulu sama, bulat dan pipih. Biasanya bakpia ditaruh dalam sebuah kotak kecil yang nantinya diisi dengan kurang 21 buah bakpia. Pembeliannya dihitung setiap kotak dengan satu macam rasa saja.
Harga bakpia home indutri ini biasanya relatif lebih murah, atau maksimal sama dengan yang dijual di toko-toko. Walau begitu, terkadang memang ada juga yang menawarkan dengan harga tinggi, tetapi Anda masih bisa menawarnya, terlebih jika Anda membelinya dalam jumlah yang besar. Kalau Anda menemukan rumah dengan bakpia yang pas dengan selera Anda, jadikan langganan untuk kunjungan berikutnya, dan kenalkan pula dengan teman, rekan kerja dan saudara Anda. Selamat Berburu!
Gudeg Jogja Yang Mendunia
Jika suatu ketika kita ditanya tentang makanan khas dari Jogja, pasti secara spontan kita menjawab “Gudeg”. Karena memang Gudeg merupakan makanan khas Yogyakarta. Seperti halnya Sate Madura dan Pempek Palembang, Gudeg Jogja juga sangat familiar di telinga masyarakat Indonesia. Bahkan para wisatawan mancanegara pun jika berkunjung ke Jogja, kebanyakan dari mereka pasti mencari Gudeg, karena Gudeg juga sudah dikenal oleh masyarakat dunia. Di Jogja sendiri Gudeg tersebar hampir di seluruh wilayah Jogja, dari sentra Gudeg di Jl. Wijilan sampai ke pelosok daerah di Propinsi DIY.
Khusus di Jl. Wijilan, terdapat banyak sekali toko yang khusus menjual Gudeg dengan harga dan rasa yang bervariasi. Selain Gudeg, di Jl. Wijilan kita dapat juga menemukan aneka oleh-oleh khas Jogja. Khusus di Kecamatan Kraton, Gudeg dapat kita jumpai di beberapa tempat lain, misalnya di restoran-restoran atau warung makan-warung makan yang tersebar di berbagai penjuru Kecamatan Kraton.
Biasanya untuk menarik perhatian para calon pembeli, penjual Gudeg mengemas Gudeg dagangannya dengan kemasan yang menarik, yaitu disajikan dengan kendhil, yaitu wadah yang terbuat dari tanah liat. Selain lebih menarik para calon pembeli, kendhil ternyata juga membuat rasa Gudeg lebih khas dan lebih enak. Gudeg kendhil ini dapat kita jumpai di hampir semua tempat yang menjual Gudeg.
Gudeg berbahan dasar nangka muda yang direbus bersamaan dengan bumbu-bumbu khusus, santen, di dasar dan di atas panci bahan-bahan yang direbus yang untuk merebus diberi alas daun jati yang masih muda. Untuk mendapatkan rasa dan warna Gudeg yang sempurna dan enak, bahan-bahan tersebut direbus selama sekitar semalam. Daun jati dipergunakan untuk mendapatkan warna Gudeg yang menarik. Untuk areh-nya atau kuahnya terbuat dari santan, bumbu-bumbu, dan kunyit untuk pewarna. Kuah tersebut dituangkan di atas Gudeg yang sudah siap disajikan, hanya sedikit saja, selain kuah juga ditaburi bawang goreng.
Gudeg mempunyai rasa yang manis. Gudeg biasanya disajikan dengan nasi hangat, telur rebus, ayam, ceker ayam, tahu, tempe, krupuk, dan lain-lain. Untuk minuman pendampingnya, dapat minuman apa saja; misalnya teh hangat, jeruk hangat, es teh, es jeruk, air putih, dan lain-lain. Rasanya kurang lengkap jika berkunjung ke Jogja tanpa merasakan Gudegnya.
Tinggalkan sebuah Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

