Djogjakarta-ku di Djogjakarta


Djogja Tempo Doeloe
Juni 26, 2008, 10:40 am
Diarsipkan di bawah: Djogja Tempo Doeloe, Zaman

Pada masa silam Yogyakarta, atau dulu dikenal dengan nama Ngayogyakarta Hadingrat sebuah “negara jawa” sebelum Republik Indonesia berdiri, ada beragam jenis bangunan, yang sekarang dari beragam jenis bangunan itu tidak lagi bisa dijumpai karena sudah runtuh atau diruntuhkan dan sama sekali tidak berbekas. Rubrik “Djogdja Tempo Doeloe” mencoba mengetengahkan model jenis-jenis simbol kebudayaan baik berupa bangunan dan yang lain dalam bentuk dokumentasi foto. Melalui artikel ini, ingatan publik kembali akan dibuka, atau setidaknya mengisi kembali ingatan kolektif. Tentu dokumentasi bangunan-bangunan yang dihadirkan disini tidak terbatas yang dulu pernah ada dan sekarang lenyap, namun juga yang dulu pernah ada dan sekarang masih ada, tetapi telah mengalami perubahan.

Selamat menikmati.

Tugu Yogya Tahun 1928

Tugu Yogya

Tugu Yogya yang terletak di tengah jalan utama di kota Yogyakarta: Lurus ke selatan menuju pagelaran Kraton. Artinya, letak Tugu , memang persis ada di tengah-tengah jalan, dari arah utara menuju kawasan malioboro. Disekitar kawasan tugu ini telah banyak perubahan. Misalnya, di dekat bangunan tugu ini telah ada bangunan rumah makan “Pizzahut”. Melihat tugu yang tertera dalam foto ini, yaitu tahun 1928 dan melihat tugu pada tahun 2002 ini, dengan segera orang akan melihat adanya perubahan,. Setidaknya pada sekitarnya, bukan pada bangunan tugunya, meskipun tugunya juga telah mengalami perubahan. Sesungguhnya melihat tugu tidak bisa dipisahkan dari bangunan Kraton, karena Tugu dianggap sebagai “titik pandang” dari Kraton, terutama darii Sitihinggil lurus menuju Tugu dan gunung Merapi. Itulah Tugu, yang acap dianggap sebagai salah satu simbol Yogyakarta.

Alun-alun Kidul 1920

Alun-alun dan Ringin kurung adalah satu tanda kultural yang dikenal oleh publik. Keduanya ada di dalam beteng Kraton, dalam bahasa jawa dikenal dengan sebutan “neng njeron beteng Kraton”. Alun-alun dan Ringin Kurun ada di dua tempat dan disebut alun-alun utara dan alun-alun selatan (Kidul). Alun-alun utara terletak di depan sebelum masuk pintu gerbang (pagelaran Kraton) alun-alun selatan ada di belakang pintu gerbang (Kemagangan Kraton). Dua pohon beringin terletak di masing-masing alun-alun dan tepat berada di tengah persis. Karena pohon ringin dipagari, kemudian disebut sebagai ringin kurung.

Alun-alun Kidul (selatan) tahun 1920 situasinya sudah berbeda dengan alun-alun sekarang, meskipun ringin kurungnya masih tetap sama. Tentu sudah mengalami berbagai macam perubahan disekitarnya, misalnya jalan yang melingkari alun-alun selatan sudah beraspal, pada jaman dulu, setidaknya sampai tahun 1960-an, belun diaspal seperti sekarang, bahkan alun-alunnya tidak ditanami rumput hijau. Pada tahun-tahun itu, di tengah alun-alun selatan ada taman sebagai tempat bermain anak-anak, tetapi taman itu sekarang sudah tidak ada. Yang khas dari alun-alun selatan sekarang ialah, setidaknya mulai awal tahun 1990an, banyak orang percaya, siapa bisa berjalan dengan mata tertutup sampai melewati tengah diantara dua Ringin kurung akan mendapat berkah. Kegiatan itu setiap hari ramai dilakukan oleh orang, baik tua maupun muda. Kalau Sabtu malam, akan penuh orang menjalani ritus seperti itu.

Pasar Beringharjo 1910

Foto-foto direpro dari Djokja En Solo, dokumentasi mikik Karta Pustaka (Anggi Minarni)

Alun-Alun Utara dan Pagelaran Kraton tahun 1980-an

Alun - Alun Utara

Alun-alun utara dan pagelaran Kraton Ngayogyakarta yang letaknya di muka bangunan Kraton, sehingga kapan orang masuk beteng Kraton dari depan, artinya dari arah kawasan Malioboro denngan segera akan melihat alun-alun utara dan Pagelaran Kraton, bahkan masuk melalui samping benteng Kraton pun, yaitu dari kawasan Jl. Kauman dan dari Kawasan Jl. Yudonegaran dengan segera akan melihat alun-alun utara dan Pagelaran Kraton.

Alun-alun utara sampai tahun 1980-an masih dilingkari jalan beraspal, sehingga pengguna jalan, bahkan anak-anak bisa berkeliling naik kendaraan memutari alun-alun utara. Bahkan pada hari minggu, ketika alun-alun utara masih dilingkari jalan beraspal, banyak orang lari pagi mengitari alun-alun utara melewati jalan aspal. Alun-alun utara yang terbelah menjadi dua, sebelah barat dan timur, di tengahnya terdapat jalan beraspal dan dipakai oleh pengguna jalan secara umum. Dari jalan tengah alun-alun utara ini ke selatan langsung pintu gerbang Pagelaran dan ke utara masuk kawasan Mailoboro. Jadi, pada tahun 1980-an Pegalaran masih tepat dipinggir jalan beraspal yang dipakai sebagai lalu lintas umum, dan persis berada di tengah jalan pemisah alun-alun utara.

Namun sekarang, jalan beraspal yang mengelilingi alun-alun utara tidak lagi bisa didapatkan. Jalan beraspal yang berada persis di depan pintu gerbang Pagelaran telah dijadikan satu dengan Pagelaran Kraton dengan cara pagarnya dimajukan. Dan jalan yang membelah alun-alun utara bukan lagi jalan beraspal melainkan telah berubah menjadi konblok. Jadi, orang tidak lagi bisa berkeliling mengitari alun-alun utara di atas jalan beraspal. Kalaupun hendak berkeliling di alun-alun utara bisa jalan melalui trotoar, yang memang mengitari alun-alun utara.


No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>